
CILEGON, KNO — Makin padatnya dunia industri di sepanjang pesisir garis pantai Kota Cilegon, semakin sempit juga peluang masyarakat untuk bisa pelesiran atau refreshing menikmati suasana pantai.
Selain pagar raksasa pabrik-pabrik, pelabuhan dan perhotelan juga nyaris menutup semua kawasan garis pantai kota industri tersebut. Sehingga bukan hanya masyarakat nelayan dan pemancing yang mengeluhkan semakin sempitnya ruang gerak aktifitas mencari ikan di laut. Masyarakat umum yang ingin menikmati Anugerah Tuhan berupa pantai juga mengeluhkannya.
Seperti yang diungkapkan oleh Madsari warga Kecamatan Jombang saat mencoba pelesiran di kawasan Merak tepatnya di bibir pantai yang terdapat salah satu hotel, pada Minggu (15/11/2020) siang.
“Keamanan pantai Merak Beach diduga melarang kami warga Cilegon berkunjung ke pantai. Ada 6 orang (sekeluarga-red) datang sekitar jam 11 siang,” ungkapnya.
Padahal menurutnya, ia dan keluarganya hanya ingin menikmati suasana pantai di hotel tersebut yang saat itu sedang dalam kondisi sepi pengunjung. Namun dengan alasan akan ada pengunjung pihak keamanan melarangnya masuk.
“Alasanya pantai Merak Beach Hotel tidak bisa dikunjungi dengan alasan sedang ada acara rombongan hajat. Saat itu kita sudah masuk di area parkir hotel,” ucapnya.
“Apakah hanya orang berduit yang chek-in di hotel saja yang dibolehkan, sedangkan masyarakat biasa hanya untuk menonton?” imbuhnya.
Pihaknya berharap pihak manajemen Hotel Merak Beach lebih bijak dalam bentuk kearifan lokal, di saat kondisi tamu sepi membolehkan masyarakat umum masuk menikmati pantai di area hotel tersebut. Terlebih di Kota Cilegon masih sangat minim objek wisata bahari.
“Kalau emang lagi sepi mah kenapa harus dilarang sih. Bijaksana saja jangan pelit. Apa orang miskin tidak boleh menikmati panorama alam milik Allah?,” harapnya.
Keluhan juga diutarakan salah satu pengunjung Hotel Merak Beach yang enggan disebutkan namanya. Di mana ia merasa kecewa dengan banyaknya sampah di bibir pantai hotel tersebut.
“Di luar ekspektasi saya, sewaktu lewat (naik kendaraan-red) saya lihat pantainya putih bersih, makanya saya kan biasa bolak balik Jawa-Sumatera, tertarik rehat di hotel ini. Tapi nyatanya pantainya kotor banyak sampah dari laut yang dibiarkan saja,” keluhnya.
“Tadinya saya mau berenang di laut, gak jadi deh. Harusnya pihak pengelola hotel secara rutin membersihkan sampah, agar tamu nyaman dan betah,” harapnya.

Sementara itu, Manajemen atau Front Office Hotel Merak Beach, Juanita saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya beralasan dilarangnya warga mengunjungi hotel tersebut karena sedang menjalankan aturan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19.
“Kita kan sedang ada pembatasan pengunjung ya pak, untuk Prokes Covid-19 ini, jadi pengunjung yang belum pesan melalui online atau telepon kita batasi dulu nunggu tamu chek-out dulu. Tadi bukan rombongan hajat tapi pengunjung paket makan, waktu kemarin kita batasi kuota pengunjung sampai 60 orang, dan di new normal udah bisa 90 orang,” jelasnya.
Saat disinggung soal keluhan pengunjung hotel akan banyaknya sampah di bibir pantai hotel tersebut, Juanita menegaskan pihaknya secara rutin setiap hari membersihkan sampah yang terbawa arus dan kiriman dari sungai di sekitarnya.
“Kalau soal sampah kita rutin bersihkan setiap hari kok pak, ada petugasnya. Mungkin itu kan sampah kiriman dari sungai dan terbawa arus laut dan belum dibersihkan petugas,” ujarnya.
Untuk itu pihaknya akan terus melakukan evaluasi untuk memberikan kenyamanan sebaik mungkin kepada pengunjung hotel. Dan meminta pengunjung yang akan masuk untuk sabar hingga sesuai dengan pembatasan kuota pengunjung. (**)
